Selasa, 24 April 2012

Mengapa Kita Tidak Boleh Berbicara Sambil Makan?




JANGAN bicara sewaktu di meja makan, itulah kira-kira apayang selalu ibu kamu ingatkan, maksudnya adalah pada saat kamu makan, jangan banyak berbicara. Apakah larangan itu lebih bersifat untuk kesopanan? Bagaimana kaitannya dengan kesehatan? Benarkah tidak baik berbicara sambil makan?
Ada dua saluran di leher kita, yaituEsofagus sebagai saluran makanan dari mulut ke lambung, danTrakea sebagai saluran udara dari mulut/hidung ke paru-paru.

Barangkali guru di sekulolah kamu adayang membedakannya menjadi kerongkongan untuk “jalur” makanan dan tenggorokan untuk “jalur” udara.




Diantara kedua saluran tersebut terdapat “katub”yang disebut epiglotis, yang berupa jaringan tulang rawan di “puncak” saluran pernafasan. Katub ini akan secara otomatis dan akurat menutup saluran udara, saat kita menelan sesuatu. Katub akan membuka saat kita bernafas, atau berbicara.
Dalam kondisi tertentu bisa saja terjadi ”makanan” masuk ke saluran udara. Tentu saja ini bisa berakibat fatal. Ini terjadi saat katub menutupi jalur udara sewaktu kita menelan makanan, sekonyong-konyong katub itu membuka karena kamu berbicara. Akibatnya bisa jadi ”secuil” makanan menyelinap masuk ke saluran udara.


Namun tubuh memiliki mekanisme yang ”menolak” benda asing masuk ke saluran udara, yaitu dengan mekanisme BATUK, atau juga TERSEDAK. Mungkin kamu pernah merasakan ”tersedak” dan mengakibatkan sebutir nasi terlempar keluar lewat hidung.
Sudah jelas kan? Mengapa sebaiknya kamu tidak berbicara atau bercanda, bahkan tertawa terbahak-bahak sewaktu makan? Jangan biarkan katub epiglotis kamu ”bingung” untuk membiarkan makanan masuk ke jalurnya, atau ”belok” ke saluranyang tidak semestinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar